Tentang


 





PPSB. AL-FALAH

 

 

Sumber Baru Al-Falah adalah nama pesantren yang terletak di Dusun Toroy. Dusun Toroy sendiri masuk wilayah administratif Desa Dempo Barat, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, berada pada kilometer 82 dari pusat kabupaten pamekasan ke arah selatan. Di dusun inilah, kemudian dijadikan tempat mendirikan pesantren sumber baru Al-Falah oleh KH. Qamaruddin Burhan yang merupakan pendiri sekaligus pengasuh pertama.

Nama “Sumber Baru Al-Falah” atau yang lebih familiar disebut Al-Falah oleh masyarakat umum, merupakan pemberian dari guru pesantren beliau mondok, Alm KH Ali Dafir Pengasuh Pondok Pesantren Aram-Aram Sotabar. Tidak hanya itu, pencetus sekaligus cikal bakal berdirinya Al-Falah juga merupakan perintah dan dukungan KH, Ali Dafir kepada santrinya yang tidak lain adalah KH. Qamaruddin Burhan di tahun yang sama, 1982.

Filosofi pemeberian nama Sumber Baru Al-Falah sendiri karena dilingkungan pesantren terdapat sumber air yang tak pernah berhenti mengalir pada masanya. Masyarakat menyebutnya ‘Somper anyar’ yang terletak dekat dengan pesantren. Namun, secara garis besar nama sumber baru Al-Falah dipilih agar menjadi pesan bagi pengambil mamfaat dari pesantren ini, yaitu agar menjadi sumber ilmu dan sumber yang melahirkan insan-insan yang berkemanusiaan sesuai dengan visi misi pesantren ini hadir.

Berdirinya Pesantren Al-Falah

Setelah tahun 1982 berbekal petunjuk, dukungan dan restu dari alm KH Ali Dafir. Pesantren Al-Falah mulai mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Mulai dari pembangunan rumah pengasuh semua dilaksanakan dengan suadaya masyarakat. Material dan tenaga semua dari masyarakat. Termasuk konsumsi para tukang. Tidak sepeserpen KH Qamaruddin Burhan mengeluarkan dana.

Setelah pembangunan rumah beliau, masyarakat mulai membangun asrama santri putri dan putra sederhana nan kecil dengan bergotong royong. Rasa kebersamaan dan memiliki masyarakat untuk membangun pesantren saat itu sangat terasa. Para suami bekerja, sedangkan istrinya datang membawa bekal nasi dan lauk pauk.

Kepercayaan masyarakat tidak semerta merta Kiai dapatkan begitu saja. Sebelum tahun 1982 yaitu tepatnya sejak tahun 1975 kiai bersama istrinya sudah mengabdikan diri di tengah masyarakat yaitu dengan mengadakan kegiatan langkeren. Tidak sedikit yang ikut kajian Kiai. Kisaran 5O-an orang ketika itu. Dan di tahun 1977 kiai mendirikan madrasah lalu di tahun 1982 pesantren pun didirikan juga.

Tempat kegiatan langkeren kiai tidaklah jauh. Masih satu desa. Berada di sebelah barat dari pesantren Al-Falah. Kurang lebih 5O M. Secara husus berada di rumah mertua kiai, seiring dengan antusias dan kepercayaan masyarakat, dan dukungan dari keluarga lebih lebih dari guru kiai, maka di tahun 1982 atau tujuh tahun kemudian, berdirilah pondok pesantren sumber baru Al-Falah.

Pada awal berdirinya pondok pesantren sumber baru Al-Falah, kiai masih tetap menjalankan kegiata langkeren, sampai pada akhirnya di tahun yang sama ada tiga pemuda yang mondok dan nyantri pada Kiai. Tiga orang santri putra, Gazali, Moh. Ali dan Abdul Halim. Satu santri putri, Mardiyah. Mereka berempat berasal dari desa yang sama, Lebeng Barat.

Seiring berjalannya kegiatan pendidikan di pesantren ditambah dengan semakin bertambahnya santri di pesantren ini, Kiai menambah tenaga pengajar diantaranya: K.H Mashuri, K.H Achmad, K,H Syaiful Bihar, K,H Abdurrazaq kecamatan Waru, dan alm Bapak Abdul Jabbar. Beliau adalah tenaga pendidik atau guru pertama yang mengajar para santri di pesantren.

Hingga saat ini. Di usia Al-Falah yang ke-39 tahun saat buku ini ditulis. Usia yang masih tergolong muda. Seiring dengan perjalanan pengabdian pesantrean Al-Falah untuk masyarakat lewat pendidikan sudah terdapat lebih 1OO tenaga pendidik yang mengajar santri yang mondok maupun yang nyolok. Mulai dari kegiatan non formal: Tajwid, Amtsilati, Pasca Amtsilati, Takhassus Pasca Amtsilati, Markas Bahasa Arab, Markas Bahasa Inggris, Tahfidz Qur’an, Qismul Qur’an, Qismul Lughah, Qismul Kutubiyah, Qismul ‘Am, dan Kesenian. Sedangkan kegiatan Formal: KB, TK, SDF, MD, MTs, MA, dan SMK. 

Ada beberapa orang yang sangat berperan penting dalam menemani perjuangan Kiai dalam membangun pesantren. Pertama tentu saja adalah istri Kiai, Alm Nyai Hj Faridatul Aliyah binti H. Achmad Khairuddin. Kedua, Mertua Beliau, H. Achmad Khairuddin bin Mutarab. Ketiga, H Achmad Khatib bin Habib. Keempat, H. Zaini bin Munar’un. Kelima K.H Rofi`e.

Guru pertama dan  lima tokoh di atas begitu berarti bagi Kiai, karena mereka menjadi saksi perjuangan demi perjuangan Kiai mendirikan pesantren. Beberapa kali Kiai meneteskan air mata saat menceritakan pengorbanan para beliau. Sulit dijelaskan dan ditulis untuk mendiskripsikan perjuangan para beliau. Begitu juga para guru yang masih aktif sampai saat ini dan juga tokoh tokoh baru yang terus mencurahkan tenaga dan pikirannya dalam mengembangkan dan mengabdikan diri kepada Allah lewat Al-Falah, tentu akan sangat diingat oleh Kiai hingga hari kiamat.

Kharisma Kiai Qamaruddin Burhan.

Sejalan dengan tumbuhnya pengakuan masyarakat, para santri yang datang berguru kepada Kiai Qamar bertambah banyak dan datang dari berbagai desa dan bahkan dari luar Madura, Seperti Jawa, Cirebon dan Sumatera. Bermula dari 3 orang santri di tahun 1982, kemudian menjadi 2OO orang pada tahun 1985 dan tercatat saat profile ini ditulis di tahun 2O21 jumlah santri sudah menjadi 15OO orang. Pembangunan dan perluasan pondok pesantren pun ditingkatkan, termasuk peningkatan kegiatan pendidikan untuk menguasai kitab kuning.

Selain mendidik santri di pesantren, Kiai juga berperan aktif membangun masyarakat lewat kegiatan kolom mingguan, setengah bulanan, dan bulanan. Tentu saja, anggota kolom yang dipimpin oleh Kiai jumlahnya cukup banyak dan menjangkau semua kalangan. Tua muda, wanita dan laki-laki semua sangat antosias menunggu kajian Kiai. Bahkan, Kiai juga sering diundang untuk berceramah di setiap kegiatan yang diadakan oleh masyarakat, seperti: acara perkawinan, haflatul imtihan dll.

Beliau semakin dianggap kharismatik, mana kala alm Kiai H Ali Dhafir pengasuh pondok pesantren aram-aram sotabar yang sangat dihormati oleh Kiai di tanah Jawa-Madura, sebelum wafatnya tahun 2O19, telah memberi sinyal bahwa Kiai Qamaruddin Burhan adalah santri kesayangan beliau.

Ada beberapa sinyal bahwa Kiai Qamaruddin Burhan adalah santri kesayangan Kiai Ali Dhafir. Pertama, ketika Kiai Ali Dhafir hadir di Al-Falah untuk mengikuti pengajian umum saat Haflah Akhirussanah. Kedua, ketika Kiai Ali Dhafir memdorong Kiai Qamaruddin Burhan mendirikan pesantren dan bahkan memberi nama Sumber Baru Al-Falah pada pesantren yang didirikan oleh Kiai Qamaruddin Burhan. Ketiga, Kiai Qamaruddin Burhan dijadikan Contoh oleh Kiai Ali Dhafir saat kajian di pondok pesantren yang beliau pimpin bahkan saat safari dakwah beliau di plosok-plosok yang secara tidak langsung Kiai Qamaruddin Burhan adalah santri Kesayangan Kiai Ali Dhafir saat beliau mondok. Tiga sinyal tersebut dinilai sebagai petunjuk bahwa setelah meninggalnya Kiai Ali Dhafir, Kiai Qamaruddin Burhan adalah benar-benar mejadi santri kesayangan alm KH Ali Dafir.

Masa Inovasi Awal.

 Keiginan Kiai untuk terus memberikan system pendidikan terbaik di pesantren yang didirikannya terus menggelora. Kiai tetap melaksanakan pendidikn klasikal agar tidak menghilangkan tradisi pesantren pada umumnya, kajian kitab kuning dan baca Al-Qur’an. Sehabis sholat lima waktu menjadi pilihan kiai mengisi kegiatan setiap hari dan malam kecuali Jum’at dan Selasa.

Selain itu, sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut di atas, kiai memberikan beberapa inovasi di pesantren ini. Pertama, inovasi dalam management pesantren. Kedua, Inovasi Sistem Pendidikan di dalamnya. Baik sistem pendidikan non formal dan formal. Ketiga, Inovasi unit-unit penunjang lainnya.

Tidak hanya itu, Kiai Juga mendirikan pesantren kedua di Desa Serreh Soddara atas permintaan dan dukungan penuh dari tokoh masyarakat di sana. Tidak jauh berbeda dengan pesantren yang sebelumnya beliau dirikan, pesantren itu pun diberi nama “Pondok Pesantren Sumber Batu Al-Falah.” Tentu, dalam perjalanan dan jarak antara kedua pesantren ini, tidak mungkin beliau menjadi pengasuh, sehingga Kiai meminta menantunya KH. Khalil Kawakib menjadi pimpinan pesantren di sana.

 

Dusun Toroy Sekarang

Secara geografis, letak Pesantren Sumber Baru Al-Falah cukup strategis, karena berada di tepi jalan raya Pamekasan-Sumenep. Lalu lintas yang melewati Pesantren Al-Falah terbagi dua jalur. Jalur pertama utara ke timur yang merupakan lintasan ke arah pasongsongan sumenep. Jalur kedua, jalur ke selatan ke barat yang merupakan lintasan ke arah waru ke pamekasan kota.

Pada awal tahun 1982-an, penduduk toroy rata-rata berprofesi sebagai petani dan pedagang. Namun sekarang keadaannya sangat berbeda. Mayoritas penduduk kini bekerja sebagai pedagang, pegawai pemerintah dan swasta, dan sebagian lagi berprofesi sebagai guru. Hampir jarang yang berprofesi sebagai petani.

Penduduknya rata-rata memiliki sepeda motor. Rumah mereka sudah tergolong bagus. Pesawat TV yang dulu hanya dimiliki oleh juragan-juragan kaya, kini sudah menghiasi setiap rumah penduduk. Banyak pula diantara mereka yang memiliki computer dan mobil.

Ketika buku ini ditulis, suasana sehari-hari di dusun Toroy sangat ramai. Keberadaan toko-toko kelontong, minimarket, warung-warung, kedai-kedai, yang berjajar sepanjang jalan, membuat kawasan ini selalu ramai dengan beragam aktivitas.

Semaraknya suasana dusun Toroy dan sekitarnya, ditopang oleh keberadaan pesantren Al-Falah. Suasana kehidupan pesantren sangat terasa di kawasan ini. Setiap hari, orang-orang bersarung, berpeci, dan berjilbab, berlalu lalang di sekitar jalann raya. Ditambah lagi banyaknya para wali santri yang datang untuk mengirim putranya di pesantren yang datang dari berbagai penjuru daerah. Jumlah wali pun semakin membeludak terutama pada hari jum’at.

Bila lebaran tiba, kawasan Toroy dan sekitarnya menjadi sepi karena santri/siswa pulang atau libur. Ini membuktikan bahwa keberadaan pesantren ini merupakan factor utama yang membuat semarak kehidupan di Toroy dan sekitarnya.

Dari uraian di muka, terlihat jelas bahwa Pesantren Al-Falah memiliki peran penting dan sangat besar, sejak awal berdirinya hingga sekarang. Peran itu dimulai dari perjuangan menyebarkan ajaran agama dan mencerdaskan kehidupa bangsa, pengembangan ekonomi masyarakat, dan penguatan civil society. Banyaknya kader-kader terbaik di daerah dan di kampus-kampus ternama lahir dari Pesantren ini, juga merupakan bukti bahwa pesantren Al-Falah tidak pernah lelah berjuang. Peran penting itu semakin dikukuhkan dengan keikutsertaan alumninya di berbagai lini, seperti: pendidikan, politik dan wirausaha.  Karena itu, tidak berlebihan kiranya bila sebagian masyarakat menyebut Al-Falah sebagai “Pesantren Pembawa Perubahan Berkemajuan.”.

Kategori selengkapnya...