Pondok Pesantren Sumber Baru Al-Falah tidak hanya menekankan pada pengajaran ilmu agama dalam bentuk teori, tetapi juga mengedepankan pengembangan kemampuan berpikir kritis dan analitis para santri melalui berbagai kegiatan interaktif. Salah satu program ekstrakurikuler yang sangat penting dalam pengembangan ini adalah Bahtsul Masail—sebuah forum tanya jawab yang membahas masalah hukum Islam, yang dilengkapi dengan diskusi mendalam, debat, dan penyampaian dasar-dasar hukum Islam. Program ini berperan sebagai wadah untuk mengasah pemahaman dan kemampuan santri dalam memahami fiqh serta memberikan solusi terhadap permasalahan hukum dalam kehidupan sehari-hari.
1. Pengenalan Program Bahtsul Masail
Bahtsul Masail adalah sebuah forum atau pertemuan yang diadakan untuk membahas berbagai permasalahan hukum Islam (fiqh) melalui sesi tanya jawab dan diskusi. Dalam program ini, santri diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan tentang masalah hukum yang mereka hadapi atau temui dalam kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat praktis maupun teoretis. Selain itu, program ini juga melibatkan proses diskusi antara santri yang satu dengan yang lainnya, serta penjelasan mendalam dari ustadz, pengasuh, dan dewan a'wan yang memiliki wawasan lebih luas mengenai hukum Islam.
2. Diskusi dan Penyampaian Dasar-Dasar Hukum Islam
Dalam Bahtsul Masail, santri tidak hanya sekedar diajarkan untuk menjawab pertanyaan yang ada, tetapi juga dilatih untuk memahami dan mendalami dasar-dasar hukum Islam (fiqh) yang mendasari setiap keputusan dan fatwa. Ustadz dan dewan a'wan memfasilitasi proses ini dengan memberikan penjelasan terkait sumber-sumber hukum Islam, seperti Al-Qur’an, hadis, ijma’ (kesepakatan para ulama), dan qiyas (analogi). Melalui pemahaman yang mendalam terhadap dasar-dasar hukum ini, santri dilatih untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah hukum Islam dengan lebih bijaksana dan berdasarkan argumen yang kuat.
3. Debat dan Pengembangan Kemampuan Argumentasi
Selain sesi tanya jawab, Bahtsul Masail juga mencakup sesi debat yang melibatkan santri untuk mempertahankan pendapat mereka mengenai suatu masalah hukum Islam. Melalui debat ini, santri dilatih untuk mengembangkan kemampuan argumentasi dan berpikir kritis dalam memecahkan masalah-masalah hukum. Proses ini sangat bermanfaat dalam membangun kepercayaan diri santri, serta kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan efektif, menyampaikan pendapat dengan jelas, dan mendengarkan serta menghargai pandangan orang lain.
4. Peran Pengasuh dan Dewan A’wan sebagai Penengah
Salah satu ciri khas dari program Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Sumber Baru Al-Falah adalah peran aktif pengasuh dan dewan a'wan yang tidak hanya memberikan penjelasan dan pemahaman, tetapi juga bertindak sebagai penengah atau yang meluruskan apabila ada perbedaan pendapat atau kebingungan di antara santri. Pengasuh dan dewan a'wan memberikan pandangan mereka yang lebih mendalam dan berbasis pada ilmu agama yang luas, serta mengarahkan diskusi agar tetap berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang benar. Peran ini sangat penting agar diskusi tidak keluar dari koridor syariat dan agar santri mendapatkan pemahaman yang sesuai dengan ajaran Islam.
5. Membangun Pemahaman yang Komprehensif tentang Hukum Islam
Melalui Bahtsul Masail, santri di Pondok Pesantren Sumber Baru Al-Falah diajak untuk lebih memahami hukum Islam secara komprehensif, bukan hanya melalui teks kitab-kitab kuning, tetapi juga dalam konteks permasalahan kehidupan modern. Program ini mengajarkan santri untuk melihat hukum Islam sebagai solusi bagi tantangan hidup sehari-hari, dan pentingnya memecahkan masalah dengan pendekatan yang berdasarkan pada prinsip-prinsip syariat yang adil, bijaksana, dan sesuai dengan konteks zaman.
6. Mengasah Kritis dan Kemandirian Berpikir
Bahtsul Masail memberikan ruang bagi santri untuk melatih kemampuan berpikir kritis mereka. Dalam setiap diskusi, santri tidak hanya diajarkan untuk mengikuti pandangan tertentu, tetapi juga diajak untuk menganalisis, mengkritisi, dan mencari solusi terbaik terhadap masalah hukum yang muncul. Hal ini mengasah kemandirian berpikir santri, agar mereka tidak hanya menjadi pengikut pendapat orang lain, tetapi mampu menghasilkan pemahaman yang kokoh dan mandiri dalam memahami hukum Islam.
7. Menjaga Keseimbangan antara Ilmu dan Praktek
Dalam Bahtsul Masail, terdapat keseimbangan yang harmonis antara teori dan praktek. Santri tidak hanya diberikan pengetahuan mengenai hukum Islam dari kitab-kitab klasik, tetapi juga dilatih untuk mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya diskusi langsung dan perdebatan, santri dapat belajar bagaimana mengimplementasikan ilmu fiqh dalam situasi yang nyata, baik di masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi mereka.